kota baru, suasana baru, teman baru (seri 2)

Kost ku yang pertama di Surabaya, Ketintang PTT III, no rumahnya aku lupa karena memang aku tidak pernah menghafal sesuatu yang menurutku tidak penting. Ketemu dengan ibu kost, ku lihat sekilas orangnya baik, ramah. Tapi entah aku merasakan sesuatu yang aneh dari raut mukanya. Yah mungking ini perasaanku aja. Semalam tinggal dirumah itu, sudah denger suara ibu sedang teriak-teriak memarahi anaknya. tiap pagi, sore, kadang juga malam dan seterusnya.  “Cara mendidik yang tidak benar”, gumamku.

Coba baca stiker ini deh….

hati hati dalam menggunakan mulutmu

hati hati dalam menggunakan mulutmu

Ada yang setuju dengan stiker diatas?

Lelucon di kelas aku anggap angin lalu aja karena masalah di kost begitu “sadis” menurutku. Memang kita harus menjaga ucapan kita sama siapa aja. Masalah dengan ibu kost dimulai, hanya karena ucapanku. Oke, aku ngaku keceplosan, tapi juga menurutku aku ga salah.

“Mba, kapan pindah”
“Oh bentar lagi bu”
“Soalnya anak baru udah mau masuk, diantar ibunya. Ga enak kalau barangnya mba masih disini”
“Oke bu, ku bereskan.” lanjut aku bergumam “Haduh, ceritanya diusir nih”
Ibu kost membalas “Ya, enggak mba”

Selang beberapa detik, Ibu kost datang sambil marah-marah, dengan mukanya yang merah padam, teriak-teriak memarahiku, membentakku, melontarkan kata-kata yang tidak pantas,

“kamu itu siapa, berani-beraninya sama saya, cuma numpang disini, calon dosen kok seperti itu ngomongnya, gak diatur, jancoooook, aku cakar mukamu bla bla bla…”.
“Maaf bu, maaf”
“Ohhh berani jawab ya”, wanita itu teriak kencang sambil tangannya menunjuk ke arahku
“Ya Allah, saya hanya minta maaf, saya salah”
“Dasar, anak ga bener, bisa-bisanya si Reni punya temen seperti ini. Kamu aja pinjam gelas gak dicuci, masuk ke sini aja belum bayar udah nginap dulu, kapan itu kamu masuk, heh”
Ku sodorkan kwitansi pembayaran kost, “ini bu saya masuk tanggal 5”
Wanita itu diam sejenak, mungkin sedang berfikir untuk menghindari rasa malunya karena sekarang baru tanggal 3. Tiba-tiba dia berkicau lagi……….
“Halah masuk aja ga langsung bayar”
Udah habis kesabaranku, aku bentak-bentak wanita tua itu “Saya juga bisa marah-marah sama ibu, oh ibu pikir saya ga bisa?”
“Berani ya kamu, berani sama saya, Jancok”

Dia mengomeliku selama 15menit, dan akhirnya suaminya menyeretnya ke kamar, masih aja ku dengar ocehannya kepadaku.

“Aku tadi tanya baik-baik, anaknya nyolot gitu. Ini rumah siapa, gitu mau jadi dosen. Kalo cuma ngusir bisa aku usir sekarang angkat barang-barangnya”, teriak wanita itu di kamar sebelah.

MasyaAllah, aku benar-benar lagi berhadapan dengan seorang singa, macan atau semacamnyalah. Untung teman sekamarku menenangkan hatiku, “Udahlah, anggap aja kamu berhadapan dengan orang gila, udah cuekin aja”.

Dan kini, tidak hanya udaranya aja yang panas, namun pikiranku pun juga ikut panas, gak dikampus, gak pula di kost.

Sedikit saran dari penulis seperti pada stiker diatas “HATI-HATI DALAM MENGGUNAKAN MULUTMU” dimanapun, kapanpun, dan dengan siapapun InsyaAllah aman, nyaman dan tentram .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: